Peristiwa ini terjadi pada saat aku bertugas menjadi guru di Alas, Timor Timur, tahun 1992. Daerah tempatku mengajar, dikenal sebagai daerah basis pemberontak yang menakutkan. Tentara kita banyak yang ditugaskan untuk menjaga keamanan di daerah ini. Kata orang-orang sudah banyak juga tentara yang pulang tinggal namanya saja. Karena ganasnya pemberontak di daerah ini.
Malam itu aku terbangun dari tidurku yang nyenyak.Di kejauhan terdengar suara letusan senjata api dan bunyi lonceng gereja yang bersaut-sautan dan berkepanjangan. Mungkin ada satu atau dua menit baru berhenti. Ini pasti ada GPK masuk kampung, batinku berkata. GPK adalah gerakan pengacau keamanan, sebutan untuk pejuang kemerdekaan
Di kegelapan malam aku berusaha meraba-raba untuk turun dari tempat tidur dan bersembunyi di tempat yang aman. Aku ingat di dapur ada tembok yang kuat dan tahan peluru. Aku masuk di situ bercampur dengan periuk dan kuali. Aku jongkok berjam-jam di situ sambil menahan rasa takut. Kalau GPK masuk ke sini mati aku. Aku diam saja walaupun nyamuk-nyamuk nakal menggigitku. Kupukul nyamuk yang menggigitku pelan-pelan.Tetapi tidak sengaja aku menyentuh periuk.Terdengarlah bunyi klontang. Aku takut sekali. Jangan-jangan didengan oleh GPK yang ada di luar kamarku.Setelah sekian lama, tiba-tiba terdengar bunyi lonceng satu kali, teng. Biasanya lonceng Koramil selalu berbunyi setiap jam di malam hari. Setelah kupikir-pikir, aku baru sadar kalau bunyi lonceng satu kali tadi adalah menandakan jam satu malam. Dan setelah kupikir lagi dan kuhubungkan dengan bunyi tembakan dan bunyi lonceng sebelumnya, aku baru sadar kalau tembakan-tembakan dan bunyi lonceng kira-kira satu jam yang lalu adalah tanda pergantian tahun, dari tahun lama ke tahun baru. Aku baru sadar kalau malam ini malam tahun baru, dan tidak ada GPK yang masuk kampung. Sejak itu aku baru berani keluar dari tempat persembunyianku. Sial ! Batinku berkata. Aku terus menuju tempat tidur untuk melanjutkan tidurku.
Dikenang kembali oleh S. Munir, 06 Juli 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar