Jumat, 13 Agustus 2010

Untuk Anak-anakku

Anakku janganlah kalian menangis ! Tangismu membuat orang tuamu menjadi sedih dan semakin sedih. Kalian harus jadi anak yang pintar. Pintar belajarnya, pintar mengurus dirimu sendiri, syukur-syukur kalau pintar membantu orang tuamu mengurus pekerjaan rumah.
Kalian harus nurut kepada orang tua. Apapun yang disampaikan orang tuamu, tujuannya baik, untuk kebaikanmu sekarang dan juga yang akan datang. Jadi ikuti saja, tidak usah membantah, agar orang tuamu senang.



Kepohbaru 2007

Sabtu, 07 Agustus 2010

Sabtu, 12 Juni 2010

Kamis, 03 Juni 2010

IKUT TRANSMIGRASI SWAKARSA

Setelah selesai sekolah, aku ingin segera dapat bekerja, agar dapat mengamalkan ilmu yang aku peroleh. Angkatanku termasuk yang kurang beruntung, karena harus mencari tempat kerja sendiri, tidak seperti angkatan sebelumnya, yang langsung ditempatkan, setelah tamat. Waktu itu tahun 1987, negara kita sedang kena resesi ekonomi, sehingga pemerintah kita kesulitan keuangan, dan dampaknya tidak bisa mengangkat pegawai dan guru yang banyak.

Dalam masa kesulitan mencari sekolah yang mau menerima aku, temanku yang baru pulang dari Sumatera bercerita kalau di tempatnya di Sumatera baru di buka sekolah dan masih kekurangan guru. Aku tertarik untuk mengikuti pergi ketempat temanku itu.
Temanku itu walaupun masih bujangan, tetapi sudah lama mengikuti transmigrasi di Riau.
Singkat cerita, aku mendaftar transmigrasi swakarsa, yaitu transmigrasi dengan kemauan sendiri, berangkat dengan biaya sendiri, dan memilih tempat tujuan sendiri. Aku mendapat surat-surat dan klambu tidur dari Kantor Deptrans. Beberapa hari kemudian aku berangkat bersama temanku ke Sumatera. Aku naik bus ke sana. Lokasinya di SKPC SP4, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Dari jalan raya lokasinya masih lumayan jauh, jadi harus naik mobil lagi, agar bisa sampai di sana. Aku ikut mobil yang biasanya mengantarkan orang-orang yang mau masuk ke lokasi itu.

Sesampainya di lokasi, aku melapor ke KUPT, dan mendapat sebuah rumah kayu kecil dan sebidang tanah pekarangan. Tetapi rumah dan tanah itu milik orang, jadi aku harus mengganti ruginya. Waktu itu aku disuruh mengganti Rp.40.000 kepada pemiliknya. Aku senang mendapat rumah bekas pakai, karena sudah siap ditempati, tidak terlalu menjadi hutan di sekelilingnya. Aku juga dikasih alat-alat pertanian, seperti cangkul, parang, dan alat-alat dapur.

Hidup di lokasi transmigrasi ternyata menyenangkan juga. Banyak tetangga seperti di lokasi perumnas. Hanya saja belum ada listrik dari PLN, maklum di tengah hutan. Banyak juga teman dan tetangga yang masih bujangan sepertiku. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa. Seperti dari Yogya, Blitar, Kebumen, Jakarta dan lai-lain. Jadi aku tidak kesepian. Ada satu SD di situ. SMP ada juga, tetapi di luar lokasi yang jaraknya sekitar 10 km. Aku mencoba melamar menjadi guru di SD itu, dan diterima.

Pagi hari sampai siang aku di sekolah mengajar anak-anak SD. Sore harinya baru bisa menggarap lahan pertanian di sekitar rumah yang luasnya seperempat hektar. Aku mencoba menanam jagung, kacang, pohon pisang, ketela pohon, dan lain-lain. Kewalahan juga aku untuk menyelesaikan kebunku.

Setiap bulan aku dan tetanggaku, mendapat bantuan bahan makanan dari pemerintah yang berupa beras 30 kg, minyak goreng 2 liter, sarden 9 kaleng setiap kepala keluarga. Lumayan juga bisa untuk menyambung hidup.

Tidak terasa waktu sudah berjalan lima bulan. Tanamanku sudah mulai panen. Jagung, kacang, dan daun singkong sudah bisa dinikmati. Wah, baru kali ini aku dapat menikmati hasil jerih payahku, hasil tanamanku sendiri, dan di rumahku sendiri. Nikmat sekali.

Ditulis oleh S. Munir

PERJUANGAN DAPAT MENDATANGKAN KEKUATAN

Pemuda adalah harapan bangsa. Baik buruknya bangsa ini, maju mundurnya Negara ini tergantung pada para pemuda. Di masa yang akan datang, para pemuda akan menjadi pengganti generasi tua.
Tetapi yang kita lihat sekarang sebagian besar pemuda kita malas untuk berjuang, dan berlatih Sekolah tetapi malas belajar. Maunya dapat nilai bagus tetapi tidak usah repot belajar. Kalau mengerjakan ujian/ ulangan sukanya mencontoh jawaban teman.
Kalau demikian, mana bisa menjadi pemuda yang kuat.
Agar bisa dijadikan harapan, pemuda harus memiliki kekuatan, baik jasmani maupun rokhani. Sesuatu bisa menjadi kuat kalau ada latihan atau perjuangan. Misalnya orang menjadi kuat mengangkat beban berat, sampai ratusan kilogram, itu karena ada latihan secara teratur. Mulai dari beban yang ringan, sampai kepada beban yang berat. Akhirnya kuat mengangkat beban yang berat-berat.
Demikian juga dengan kekuatan rokhani/ mental seseorang. Kalau terbiasa latihan, maka akan menjadi kuat. Ia menjadi cerdas, cepat dalam berfikir, tidak pantang meyerah, tidak cengeng dst.
Demikian juga sebaliknya, kalau jasmani maupun rokhani yang tidak pernah dilatih secara teratur, maka tidak akan memiliki kekuatan, dia akan menjadi lemah.

Ditulis oleh S. Munir

Selasa, 18 Mei 2010