Selama aku hidup di Timor Timur, banyak peristiwa yang kualami yang tidak mudah untuk dilupakan. Salah satu diantaranya yaitu ketika aku tinggal di mess
sekolah / rumah dinas milik sekolah.
Waktu itu sekitar bulan April 1999. Situasi keamanan di Alas, tempat tinggalku, sedang gawat, tidak aman, banyak penyergapan dan penculikan yang dilakukan oleh pejuang kemerdekaan Timor Timur yang disebut oleh TNI sebagai GPK(Gerakan Pengacau Keamanan).
Banyak tentara dan orang Timtim pro Indonesia yang diculik, dan akhirnya ditemukan sudah menjadi mayat. Takut akan hal ini, kami guru-guru SMPN Alas, tidak berani lagi tinggal di Alas, dan memilih “mengungsi” di Same,( ibu kota kabupaten), di rumah yang dikontrak oleh sekolah. Yang masih tinggal dan bertugas di Alas hanya Kepala Sekolah saja. Padahal sebentar lagi anak-anak kelas 3 mau ujian.Satu minggu lebih aku tinggal di Same. Aku sudah mulai bosan tinggal di tempat itu, karena tidak ada kegiatan lain selain makan tidur saja. Aku memutuskan kembali ke Alas, nanti setelah ujian bisa bebas meninggalkan Alas. Teman-teman banyak yang menentang keputusanku. Mereka menginginkan ujian anak kelas 3 diadakan di Same saja. Aku tetap pada pendirianku untuk kembali ke Alas hari itu. Aku berangkat jalan kaki sendirian ke Alas, dengan bekal sedikit keberanian. Sore harinya aku sudah masuk” rumahku” di Alas. Aku tinggal sendirian di rumah itu. Begitu hari gelap aku sudah menutup dan mengunci pintu kamarku. Aku tidak berani keluar rumah kecuali mau ke wc.
Kira-kira jam 7 malam, aku dikejutkan oleh suara ketukan di pintu kamarku. Suara orang yang tidak aku kenal dan menggunakan bahasa daerah( Tetun) mengiringi ketukan pintu tadi. Orang itu minta dibukakan pintu. Aku diam ketakutan di dalam kamar. Orang itu terus mengetuk pintu sambil mengancam akan membunuhku. Dengan bahasa daerah yang sangat terbatas dan suara yang gemetar, aku mencoba menjawabnya. Aku jangan dibunuh, aku tidak tahu politik, begitu kataku dalam bahasa Tetun. Terus orang itu meminta sejumlah uang. Kalau tidak mau memberi, aku mau dibunuhnya. Aku tidak berpikir panjang, aku beri dia selembar uang 20 ribuan, aku sisipkan lewat bawah pintu kamarku. Dia ambil uang itu. Dia minta lagi. Aku beri lagi selembar 20 ribu, sambil gemetaran tanganku. Dia ambil uangku dan aku bilang uangku sudah habis, tinggal sedikit untuk beli beras besok. Orang itu diam-diam pergi meninggalkan pintu kamarku.
Sementara belum hilang rasa takutku, tiba-tiba aku mendengar suara temanku
Pak Ansar, memanggilku. Sepertinya dia baru tiba dari Same, kemalaman. Menyusul berikutnya, teman-teman yang lain, ada dua atau tiga orang. Langsung saja aku ceritakan apa yang baru terjadi di depan pintu kamarku. Semuanya diam mendengarkan ceritaku. Tidak lama mereka masuk ke kamarnya masing-masing.
Selang tiga hari, tiba-tiba teman-temanku buka mulut, kalau merekalah yang menakut-nakuti aku sambil minta uang. Jadi, bukan GPK yang datang. Langsung saja aku maki-maki mereka. Tapi mereka tidak marah, uangku 60 ribu dikembalikan kepadaku. Beberapa hari kemudian orang sekampung mendengar dan menertawakan peristiwa yang aku alami, termasuk para suster di gereja Alas. Aku malu sekali ditertawakan orang sekampung. .
Dikenang kembali oleh S. Munir tanggal 7 Juli 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar