Setelah selesai sekolah, aku ingin segera dapat bekerja, agar dapat mengamalkan ilmu yang aku peroleh. Angkatanku termasuk yang kurang beruntung, karena harus mencari tempat kerja sendiri, tidak seperti angkatan sebelumnya, yang langsung ditempatkan, setelah tamat. Waktu itu tahun 1987, negara kita sedang kena resesi ekonomi, sehingga pemerintah kita kesulitan keuangan, dan dampaknya tidak bisa mengangkat pegawai dan guru yang banyak.
Dalam masa kesulitan mencari sekolah yang mau menerima aku, temanku yang baru pulang dari Sumatera bercerita kalau di tempatnya di Sumatera baru di buka sekolah dan masih kekurangan guru. Aku tertarik untuk mengikuti pergi ketempat temanku itu.
Temanku itu walaupun masih bujangan, tetapi sudah lama mengikuti transmigrasi di Riau.
Singkat cerita, aku mendaftar transmigrasi swakarsa, yaitu transmigrasi dengan kemauan sendiri, berangkat dengan biaya sendiri, dan memilih tempat tujuan sendiri. Aku mendapat surat-surat dan klambu tidur dari Kantor Deptrans. Beberapa hari kemudian aku berangkat bersama temanku ke Sumatera. Aku naik bus ke sana. Lokasinya di SKPC SP4, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Dari jalan raya lokasinya masih lumayan jauh, jadi harus naik mobil lagi, agar bisa sampai di sana. Aku ikut mobil yang biasanya mengantarkan orang-orang yang mau masuk ke lokasi itu.
Sesampainya di lokasi, aku melapor ke KUPT, dan mendapat sebuah rumah kayu kecil dan sebidang tanah pekarangan. Tetapi rumah dan tanah itu milik orang, jadi aku harus mengganti ruginya. Waktu itu aku disuruh mengganti Rp.40.000 kepada pemiliknya. Aku senang mendapat rumah bekas pakai, karena sudah siap ditempati, tidak terlalu menjadi hutan di sekelilingnya. Aku juga dikasih alat-alat pertanian, seperti cangkul, parang, dan alat-alat dapur.
Hidup di lokasi transmigrasi ternyata menyenangkan juga. Banyak tetangga seperti di lokasi perumnas. Hanya saja belum ada listrik dari PLN, maklum di tengah hutan. Banyak juga teman dan tetangga yang masih bujangan sepertiku. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa. Seperti dari Yogya, Blitar, Kebumen, Jakarta dan lai-lain. Jadi aku tidak kesepian. Ada satu SD di situ. SMP ada juga, tetapi di luar lokasi yang jaraknya sekitar 10 km. Aku mencoba melamar menjadi guru di SD itu, dan diterima.
Pagi hari sampai siang aku di sekolah mengajar anak-anak SD. Sore harinya baru bisa menggarap lahan pertanian di sekitar rumah yang luasnya seperempat hektar. Aku mencoba menanam jagung, kacang, pohon pisang, ketela pohon, dan lain-lain. Kewalahan juga aku untuk menyelesaikan kebunku.
Setiap bulan aku dan tetanggaku, mendapat bantuan bahan makanan dari pemerintah yang berupa beras 30 kg, minyak goreng 2 liter, sarden 9 kaleng setiap kepala keluarga. Lumayan juga bisa untuk menyambung hidup.
Tidak terasa waktu sudah berjalan lima bulan. Tanamanku sudah mulai panen. Jagung, kacang, dan daun singkong sudah bisa dinikmati. Wah, baru kali ini aku dapat menikmati hasil jerih payahku, hasil tanamanku sendiri, dan di rumahku sendiri. Nikmat sekali.
Ditulis oleh S. Munir
iyaa klo ada kemauan ternyata ada jalan juga......tp brp luas dapat lahan garapnnya?
BalasHapuslahan garapan yg di sekitar rumah luasnya kira-kira seperempat hektar. Sedangkan lahan pekarangan yg jauh dari rumah 2 hektar, ttpi msih berupa hutan.
BalasHapusSetelah sekian puluh tahun aku tinggalkan, kabarnya sekarang di sana para petaninya sudah pd sukses jadi pengusaha kebun karet, dan kelapa sawit. Udah kaya2 orangnya, udah pada bermobil...syukurlah.
Saya tertarik mengikuti transmigrasi swakarsa, apakah daerah tujuan harus merupakan wilayah yang sudah digunakan untuk transmigrasi ?
BalasHapusIya betul, daerah tujuan adalah lokasi transmigrasi yang sudah dibuka oleh pemerintah.
BalasHapus